CiKRiWiLi WiNiTi
By: Endang Dwi K.
Semburat merah kekuning-gading itu akan segera tampak di ujung timur gang. Seperti terkomando, Ayam membangunkan betinanya agar mau menetas matahari. Penanda sang waktu mulai bangun lalu bernyanyi mengiring lagu dan ritme yang dicipta manusia. Malam harus rela melepas pelukan eratnya, ketika dalam hitungan detik matahari serupa ingin segera berdansa dan mencumbu sang waktu yang telah begitu mempesona dengan kerlingan diam-diamnya. Matahari mulai berlenggak-lenggok di atas catwalk, mempertunjukkan kebolehannya sementara pendar Siang telah turut pula serta dan merangkulnya, hangat dan mesra. Aku menyaksikan semua itu tanpa bosan, hari demi hari dengan pesona dan laku yang hampir sama. Namun kadang Malam terlalu serakah tak membiarkan matahari lepas dari gelungannya, hingga Siang harus mengalah dengan mega-mega sebagai penawarnya. Itulah Siang si pengalah yang menyimpan kesedihannya sendiri, dan Malam si serakah yang tak pernah mau mengerti. Hingga suatu saat di bulan-bulan tertentu yang berakhiran ber – September, Oktober, Nopember, Desember – Siang tak mampu menahan pedih hati, ia tumpahkan kekesalan dengan cucuran airmatanya ke Bumi, kala itu Malam akan semakin bahagia karena muramnya Siang memberi kesempatan padanya untuk menghibur dan bersedia menjadi selimut hangatnya. Malang benar nasib Siang yang ditakdirkan untuk selalu mengalah berada di bawah kecongkakan Malam.
*****
Bus jalur 15 berjalan lambat-lambat. Perempatan Demak Ijo menjadi semacam iring-iringan parade kota. Puluhan manusia berjejer rapi di depan maupun di seberang Batalyon, bukan untuk menonton tapi sebentar-sebentar melihat jam di pergelangan dengan gerak cepat serupa kilat, kaki mengetuk-ngetuk ala rebana yang ditabuh serampangan, cemas jika waktu segera beranjak sementara tumpangan yang ditunggu tak jua kunjung datang. Mobil, motor, bus, dan truk saling berebut membunyikan klakson ketika merah terganti hijau diperempatan itu, sementara Pit othel dan becak dengan malu dan takut-takut berusaha mencari celah di antara asap knalpot dan raungan mesin yang menderu-deru. Tak perlu ngetem lama agar penuh Bus ini. 06.30, jalan raya adalah milik pelajar dan pegawai, apalagi ke arah Timur, daerah kampus dan kantor. Ahai, coba lihat diseberang, tepat di depan Batalyon itu. Masih dengan polah yang sama, lihat saja dalam beberapa detik jika jalur 15 arah Gamping tak segera datang, lantai trotoar itu akan jebol sebab irama ketukan kaki itu semakin lama semakin dalam dan tentu saja kuat. Sayang, Irama ketukan kaki itu tak bisa terus kunikmati karena jalur 15 arah Taman Lembah ini segera saja ingin pergi dan memuntahkan penghuninya satu-persatu.
Aku melihat perempuan itu masuk, tepat di depan Hotel RAMA. Semula tak ada sesuatu yang beda dan menarik padanya. Dia sama halnya seperti para perempuan lain, memiliki fisik dan rupa feminine. Namun ada sesuatu yang kurasa berbeda ketika dia masuk. Entah itu apa. Sreett. Aku menarik kakiku ketika tak sengaja terinjak olehnya, perempuan itu. Aku tarik sedikit garis bibirku ke atas, memberi isyarat aku tak apa-apa saat dia memandangku dengan wajah penuh sesal. Nah, itu dia batinku. Matanya. Aura itu yang kurasakan berbeda sejak dia masuk. Dia pandang aku dengan heran dan jenaka terjelma di jemarinya ketika beberapa detik aku terpaku memandang tepat ke bola matanya. Jemari di tangannya yang bebas berayun menanda kalimat Hey, Ada apa?Apa ada yang salah dengan ku?, dengan bahu sedikit mengendik ke atas. Aku tersenyum, lalu menggeleng. Lihatlah bagaimana kami berdialog tanpa kata. Seakan ada semacam kaleng – kawan akrab main telpon-telponan sewaktu kecil – dengan lubang seukuran jari kelingking tempat benang berjelujur menghubungkan pikiranku, pikirannya, pikiran kami. Lihatlah, bahkan kondektur yang ada di depan kami tak menyadari bahwa kami terlibat percakapan semacam itu. Tiba-tiba saja ada serupa benang merah yang menghubungkanku dengannya. Demikianlah kemudian terasa menghangat. Aku beringsut memberi tempat duduk padanya, setelah lelaki disebelahku turun di perempatan Pingit tak jauh dari Pasar Kranggan.
“Apakah kamu perempuan?”. Aku menatapnya tak mengerti.
“Ya. Tentu saja”.
“Jika begitu, Aku merasa aman”.
“Mengapa ?”
“Kelak kau akan tau alasannya jika takdir pertemukan kita lagi”. Kerlingnya.
Dia tanya beberapa hal tentang studiku, dan aku tanya beberapa hal tentang pekerjaannya. Katanya dia adalah buruh, karena pada hakikatnya semua orang yang bekerja adalah buruh, apapun profesi resminya. Baiklah. Aku telan argumennya.
Begitulah kemudian esoknya terulang lagi. Tepat di depan Hotel RAMA, dia – Aku belum tau namanya, nama perempuan itu – ikut menumpang bus ini lagi. Bangku kedua dari pintu depan sayap kiri bus ini seolah tersedia untuk kami berdua.
“Apakah kamu perempuan?”. Aku kembali menatapnya tak mengerti.
“Ya. Tentu saja”. Balasku.
“Jika begitu, Aku merasa tak aman”.
“Hey, Mengapa? Kau katakan kemarin Kau merasa aman jika aku perempuan”. Protesku.
“Kelak kau akan tau alasannya jika takdir pertemukan kita lagi”. Hembusnya perlahan.
Ada lebam di sudut kiri matanya, dan ada kulit yang pecah di sudut kanan bibirnya.
“Jangan tanya tentang luka-lukaku. Aku tak ingin membahasnya”. Dia baca pikiranku.
“Siapa namamu?”.
“Kayati”. Singkat, padat.
“Kata Emak, agar aku menjadi orang yang kaya hati”. Ujarnya tersenyum.
Begitulah. Kemudian kami perbincangkan kabar-kabar lain yang tengah hangat dibicarakan orang-orang. Aku cukup tau diri untuk tak membahas lagi tentang lebam-lebam mukanya, bahkan mungkin di sekujur tubuhnya, ada luka seperti bekas terbakar di tangannya ketika lengan bajunya tersingkap menghalau rambutnya yang nakal dimainkan angin. Dan jelas sekali terlihat di kerut dahinya yang putih, dia sedang menahan sakit ketika menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.
Rabu ini ketiga kalinya takdir seolah menyapa kami berdua. Masih tetap di bangku kedua dari pintu depan sayap kiri bus jalur 15 ini.
“Apakah kamu manusia”, aku dapati rasa sinis dalam nada bicaranya.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, hanya tatapanku yang lekat ke bola matanya.
“Taukah kamu teman, Andai saja kita sama-sama manusia”, sambil menerawang ia berucap.
“Barangkali akan lebih mudah memperbincangkan banyak hal. Tak ada dominasi, tak ada saling menyakiti”. Keluhnya.
Selanjutnya ia pejamkan mata, aku tak yakin ia tidur sebenarnya. Sebab desah nafasnya serupa pekerja yang dibebani lembur dan deadline dua puluh empat jam. Mengacuh letih melawan hati, sebab tanggung jawab membuatnya terjaga dari kantuk yang tak tertahan, agar tak hilang kepercayaan tuan dan agar tak hilang profesionalitasan.
Lihat! Mendung itu seperti halnya wajah putih teman baru-ku yang tertutup awan kelabu. Pucat serupa kuas yang disapu dengan paduan warna tanggung dan ragu-ragu. Sungguh tak elok dipandang dari sudut manapun.
Pertemuanku dengannya terjadi tiga bulan selanjutnya. Dia muncul tepat di hari, jam, dan dari tempat yang sama. Aku sempat heran. Mengapa ia tak naik bus ini selama beberapa waktu, tiga bulan dua hari tepatnya (Aku bahkan menghitungnya). Tiap kali bus ini melewati hotel itu, aku menoleh dan berharap dia ada dan lambaikan tangan, memberi tanda bahwa ia akan turut pula menumpang. Aku menelan kecewa ketika beberapa hari setelahnya ia tetap tak kelihatan batang hidungnya. Ah, mungkin dia naik bus lain pikirku kala itu. Dan aku tenggelam dalam kesibukanku sebagai mahasiswa dan parttimer KopMa di sela-sela kepadatan kuliah. Namun aku tak pernah benar-benar bisa melupakan perempuan itu. Seringkali jika malam menjelang dan aku bersiap-siap ke peraduan bayangan lebam dan darah kering di sudut bibirnya datang. Kata-katanya yang penuh dengan misteri dan rahasia. Menyiratkan sesuatu yang begitu rapat dan dalam ia sembunyikan. Kayati, Kaya hati. Apakah hatinya sekaya itu hingga mampu menampung luka dan duka yang terlihat nyata dari tarikan garis bibirnya ketika berucap & berkata. Dia mengingatkanku pada Siang yang menyimpan kesedihannya dengan mega-mega sebagai penawarnya. Mereka berdua adalah sejoli masochist tulen, menyembunyikan lalu menikmati kesedihan!
“Aku senang melihat bintang, karena sinarnya yang cerah dan gemerlapan. Ia seperti simbol kehangatan”, Aku menoleh padanya yang tanpa kupersilahkan telah membuka pembicaraan. Kami saling bertatap dan aku tersenyum mengiyakan. Ada seri di rona wajahnya kali ini.
“Mau aku ceritakan sesuatu? Ini tentang bintang dan kebebasan”, Kerling matanya tegas menyiratkan kebahagiaan. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu di telingaku.
“Aku akan melaporkan mereka ke Kantor Polisi Rabu ini. Orang-orang yang mendatangiku itu berjanji akan mengawal ku, menemani ku, melawan mereka, melawan suami dan mami- ku. Aku akan bebas. Aku akan merdeka. Aku tak lagi terjajah. Aku segera bisa pergi ke bintang, teman”, Dia memandangku dengan luapan rindu & asa yang menggebu.
Bola mata ku berputar, aku telengkan wajah dan melihat mukanya yang penuh lahar tawa siap meletup kapan saja, ia hentikan sejenak euphorianya khilaf atas ketidakmengertianku. Perlahan wajah sendu mulai menggejala di mukanya. Ia remas saputangan yang sedari tadi pasrah dalam kuasa tangannya, ia mulai pejamkan mata dan hembuskan napas perlahan.
“tiga tahun yang lalu kami memutuskan menikah. Awalnya kami begitu bahagia walaupun hidup dalam keterbatasan. Suamiku kerja di salah satu Perusahaan Biskuit di Semarang. Aku mencoba membantunya dengan berjualan kue-kue dan jajanan pasar di pasar Sewon. Dua minggu sekali ia pulang ke rumah. Kami tinggal bersama Emakku sebab Emakku sudah tak punya siapa-siapa lagi selain aku. Namun sejak harga gandum & tepung melambung, suamiku termasuk salah satu karyawan yang terkena imbas PHK. Ia menganggur dan akhirnya pulang. Itu terjadi tujuh bulan setelah kami menikah. Sejak itu ia berubah, ia mulai suka main tangan”,
Bus yang kutumpangi tiba-tiba terhenti ditengah jalan, semua penumpang melongok keluar mencari-cari tahu mengapa semua kendaraan di depan, kanan, dan kirinya melakukan hal yang sama berhenti ramai saling berebut klakson. Kondektur selaku asisten pribadi sang Sopir segera melesat mencari sumber kemacetan, beberapa menit kemudian ia memberitahukan bahwa ada Baliho Iklan tiba-tiba jatuh ke tengah jalan dan besi penyangganya menimpa satu mobil yang sedang asik jalan. Penumpang selamat, namun posisi mobil yang tepat berada di kanan badan jalan dan besi baliho yang merintang dari kiri memenuhi hampir seluruh badan jalan, ini menyulitkan polisi untuk segera menormalisasi keadaan. Alhasil seluruh kendaraan arah ke Timur harus rela menunggu hingga selesai proses evakuasi. Para penumpang yang tak ingin terlambat ke kantor, sekolah, maupun kampus segera turun dengan gerutu & omelan menyeberang sumber kemacetan dan berharap ada jalur bus lain segera datang. Sementara aku, tak apa aku terlambat sebab aku pikir ini anugerah dan aku tak ingin melewatkannya, melewatkan setiap kata yang akan keluar dari perempuan cantik di sebelahku ini, kemacetan ini akan memberikan kami banyak waktu. Sambil sesekali aku masih tergoda berpikir mengapa baliho sebesar 2 x 3.5 meter itu bisa ambruk, apakah pondasinya rapuh ataukah tanahnya sudah bosan di tancapi iklan-iklan ringan yang berbau pendustaan.
“Bulan kedelapan pernikahan, aku hamil. Bahagiaku tak terkira kala itu. Namun suamiku tak acuh, dan dia malah sering menuduhku macam-macam. Katanya aku tak setia dan selingkuh, sebab aku sering pulang malam. Aku pulang malam karena aku ingin meringankan bebannya, aku kerja jadi tukang masak di restoran. Aku ambil Shift malam sebab pagi aku harus jajakan jajanan ke pasar, siang hingga sore aku sewakan jasaku untuk mencuci baju tetangga-tetanggaku. Hingga malam itu, setelah letih bekerja seharian, aku baru saja menginjakkan kaki di depan pintu. Tangan suamiku melayang memukul kepala dan meninju perutku. Aku belum sepenuhnya sadar mengapa suamiku sekalap itu, Emak berlari dan mencoba melindungiku. pukulannya makin membabi buta. Kami berdua tak berdaya melawan kekuatannya. Aku rasakan ada yang dingin di kakiku, aku tengok dan seketika itu pula aku menjerit. Darah mengalir membanjiri kakiku dan lantai. Barulah suamiku berhenti lalu jatuh terduduk. Tercium olehku bau minuman dari tubuh suamiku”, Aku genggam tangannya mencoba memberi kekuatan, iapun kembali melanjutkan kisahnya.
“Usia kandunganku belumlah genap tiga minggu. Tapi peristiwa itu membuatku harus kehilangan janinku. Sementara sejak itu Emak menjadi sakit-sakitan, dan tepat dua minggu setelahnya Beliau menghadap Yang Maha Kuasa”, Dia menghapus duka yang meleleh di matanya.
“Mengapa kamu tak coba laporkan perbuatan suamimu pada dokter atau Kepala Desa?”, geramku.
“Ketika di Rumah sakit, suamiku bersujud menghiba memohon ampun. Aku tak kuasa menahan haru atas sikapnya. Dia berjanji akan berubah dan tak akan mengulanginya. Begitu dalam rasa cintaku padanya. Aku indahkan semua rasioku waktu itu. Esoknya, sambil genggam tanganku ia katakan, tak perlulah semua ini aku ceritakan ke orang-orang. Akhirnya aku katakan pada tetangga yang datang bahwa aku terpeleset dan jatuh. Meskipun aku tahu mereka lebih percaya pada memar dan luka-luka di tubuhku yang bicara hal sebenarnya”,
Gigiku gemeletuk mendengar trik busuk para casanova kelas teri ini. Memanfaatkan kelemahan kaum hawa pada rasa cinta dan kasih sayang, stigma yang demikian mudah melekat pada jiwa dan akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya.
“Sebulan setelah masa penyembuhanku. Dia … dia …”, Kayati menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Rasa pedih yang demikian menggiris.
15 menit berlalu, semua kendaraan sudah mulai bisa berjalan.
“Dia … menjualku pada lawan main judinya untuk membayar utang-utangnya yang menumpuk. Dia bilang jika aku mencintainya, maka aku harus mau berkorban untuknya. Hampir satu tahun dia terus memperlakukanku seperti itu, dari laki-laki satu ke laki-laki lain. Duh Gusti, tentu Emak akan marah jika ia tahu aku turuti kelakuan bejat suamiku. Aku rindu Emakku”,
Aku teringat kali pertama kita berjumpa, 3 bulan lalu. Mungkin ia teringat akan emaknya, itukah sebabnya ia bilang merasa aman waktu aku katakan aku perempuan.
“Perjalanan dari satu hotel ke hotel lain mengantarkanku bertemu dengan mami, begitu ia ingin aku memanggilnya. Aku manut ketika suamiku mengantarku ke sana, katanya aku akan di salurkan menjadi TKW. Lebih baik begini, pikirku. Aku mungkin akan bisa lepas dari suamiku. Aku pikir mami akan menjadi Emak keduaku. Suamiku adalah macan dan belakangan aku sadari bahwa mami adalah singa betina. Bukannya lepas dari macan dan hidup bebas tapi aku masuk ke mulut singa betina. Jika dulu seminggu sekali suamiku menjadikanku barang taruhan judi, disini tiap hari mami memasangku dengan tarif tinggi. Dia bilang aku barang baru, kulitku lebih putih dari kebanyakan penghuni mess terdahulu. tubuhku masih segar, cantik, dan berisi. Dulu aku pikir hanya laki-laki seperti suamiku saja yang tega berbuat itu, tapi ada juga perempuan seperti mami yang bahkan lebih kejam”, Ia diam sejenak mengumpulkan kekuatan.
“Lalu satu malam itu, entah kenapa aku ingin melawan. Aku tak mau berdandan. Aku tak mau lagi di pajang di etalase pilihan. Mami dan suamiku memukuliku, disundutnya pula aku dengan rokok yang mereka pegang. Lalu aku teringat emakku dan aku tak mau mati dulu sebelum aku bisa bikin perhitungan. Aku terus berdoa, semoga Tuhan menunjukkan kekuatannya dan membalas orang-orang yang telah memperlakukanku sedemikian rupa”,
Ini mengingatkanku pada pertemuan kali keduaku dengannya, Itukah sebabnya ia bilang merasa tak aman sewaktu aku katakan bahwa aku perempuan. Dan ingatanku menguar pada lebam & luka-luka tubuhnya saat itu.
Kami berpisah di Taman Lembah, aku katakan esok masihkah kita akan bersua, sebab aku masih ingin dengar lanjutan kisahnya. Sebab aku rasakan aroma kekuatan perlawanan dari bibirnya yang sekarang, sangat kontras dengan aroma misteri dan ketakutan 3 bulan yang lalu. Dan ia tersenyum menjanjikan.
*****
“Mami menentukan hotel dan penginapan mana yang bisa di booking para pelanggan setelah mereka menetapkan wanita mana dalam etalase itu yang dipilih. Biasanya tiap perempuan mendapat jatah 3 hari di hotel yang sama, kemudian berpindah ke hotel dan penginapan lain yang tersebar di kota ini, untuk menghindari kecurigaan pihak hotel maupun jika ada razia dadakan sebab pelanggan mami bukanlah pelanggan kelas teri. Pelanggan mami, seperti yang aku dengar dari senior-senior di mess banyak berasal dari luar kota (bahkan luar negeri) datang memakai mobil mewah, ada juga yang katanya pejabat pemerintah, aku tak begitu tahu karena aku tak begitu memusingkan itu. Tuhan mengabulkan doaku. Seminggu yang lalu ada seorang lelaki yang mengaku bernama Wardan, ia tak seperti pelanggan pada umumnya yang datang ditemani sopir ataupun bodyguard, ia datang sendiri. Ia mengaku tak punya cukup uang, tapi ia ingin bermain dengan salah satu wanita dalam etalase pajangan itu. Mami sudah akan mengusirnya, tapi aku mencegahnya. Ada sesuatu yang kurasa berbeda di diri laki-laki ini. Setelah berdebat panjang, mami melepasku dengan terpaksa sebab tarifku yang paling tinggi di sana. Dia pikir mungkin lebih baik dapat uang sedikit daripada tidak, beberapa hari ini pelanggan sepi sebab sedang musim razia dan penggerebekan di hotel-hotel dan penginapan. Kali ini mami tak menentukan harus ke hotel dan penginapan mana. Mungkin ia pikir Wardan tak punya posisi berpengaruh yang mampu merusak bisnisnya jika ia kena razia”, Sedikit terengah ia menceritakan bagian ini.
Setelah semalaman aku tak bisa tidur memikirkan kisah pedih Kayati yang bertubi-tubi. Akankah aku berjumpa dengannya lagi. Ada rasa sakit dan pilu yang turut berdenyut di sini. Ada iba yang tak terbahasa. Ada luka yang terasa ingin aku seka. Selasa ini rupanya nasib baik merubungku. Aku bersorak sewaktu dia lambaikan tangan dan ikut menumpang bus ini.
”Diperjalanan Wardan menanyaiku macam-macam. Aku berasal dari mana, sudah pernah punya suami apa belum, dan mengapa sampai ada di tempat mami. Aku tak merasa tersinggung atas semua pertanyaannya. Wardan menanyaiku dengan lembut dan tanpa cela. Lagipula waktu itu aku butuh keluarkan semua kesahku pada seseorang. Lalu aku ceritakan padanya semua peristiwa yang menimpaku hingga akhirnya aku terdampar di lembah nista itu”, Dia hembuskan napas dan menatapku.
Rona merah di wajahnya menambah keayuannya. Kelegaan & harapan tercermin di dalamnya. Tuhan menganugerahkan wajah yang begitu sempurna padanya. Kulit yang lebih putih dari para perempuan kebanyakan, hidung mancung, mata besar dengan bulu mata nan lentik, bibir mungil nan ranum, dan tubuh yang tampak masih sintal di usianya yang aku tebak mendekati tiga puluhan. Keseluruhan dirinya adalah penggambaran perempuan cantik dan seksi di iklan-iklan sabun, kosmetik, bahkan sepeda motor. Pahatan Tuhan pada tubuh Kayati adalah dambaan para lelaki hidung belang.
”Wardan tidak membawaku ke hotel atau penginapan. Wardan membawaku ke suatu rumah di jalan Magelang. Ternyata disana sudah berkumpul teman-temannya yang kebanyakan perempuan. Mereka menyambutku dengan hangat dan bersahabat. Salah seorang perempuan itu mengajakku masuk dan mengatakan banyak hal dengan bahasa yang aku tak terlalu mengerti. KDRT, Trafficking, Advokasi, Grassroot. Intinya perempuan itu mengatakan akan menolongku keluar dari rumah mami, hingga mengirimnya dan suamiku ke penjara. Tapi mereka butuh kerjasama dariku. Duh gusti, ternyata Engkau masih mendengar doaku. Aku peluk perempuan itu dan menangis haru. Aku bahkan lupa ucapkan terima kasih ke mereka. Selama beberapa hari Wardan terus menjemputku, dia bawa uang lebih banyak kali ini agar mami tak curiga. Mereka membahas rencana dan strategi untuk menangkap mami dan tentu saja suamiku. Aku di libatkan dan aku merasa senang, aku merasa nyaman dan bersemangat dengan dunia baruku ini. Sebenarnya mereka telah menawariku untuk tinggal sementara di rumah itu, tapi aku tak mau. Karena jika aku lakukan itu, hanya aku yang akan mengenyam kebebasan. Aku ingin teman-teman ku di mess, yang kebanyakan karena keadaan dan keterpaksaan harus hidup sebagai budak pemuas nafsu juga ikut merasakannya”, Matanya berbinar-binar cerah.
Aura inilah yang tampaknya aku rasakan kala pertama jumpa dengannya, altruisme, empati, kecerdasan, dan perlawanan dari perempuan yang pernah terluka.
”Dan esok adalah hari bahagiaku. Sebab tugasku mencari bukti-bukti dokumen dan merekam peristiwa telah aku kerjakan dengan baik, tinggal tersisa beberapa data yang bisa dengan mudah aku kerjakan esok pagi ketika suamiku datang. Yaitu informasi tentang jaringan yang dimiliki mami di desa dan kota-kota, sebab aku yakin suamiku tahu banyak tentang itu. Suamiku sering mengunjungiku dengan membawa gadis-gadis baru di mobilnya, mobil yang tak mungkin diberikan cuma-cuma oleh mami padanya”, Ia mengakhiri ceritanya dengan kelegaan yang kental terasa.
Perjuangan Kayati tampaknya menular pada siapapun yang melihat & mendengarnya termasuk aku dan sang Siang. Angin tengah mencumbu mega-mega agar pergi tak menghalangi matahari. Siang mulai menunjukkan perlawanan. Siang telah menemukan sekutunya, angin yang akan menghalau selimut hitam yang ditawarkan malam. Siang tak ingin lemah, Siang ingin merdeka. Demikian cepat virus Kayati itu menyebar, tubuhku sekarang menggembung sebab telah penuh dengan semangat juang yang disuntikkannya ke rongga dadaku. Tampaknya Tuhan telah mengatur semuanya, ia kirimkan Kayati untuk berdiskusi dan berbagi. Aku menjadi tersentak dengan nuansa biru yang Ia sentilkan lewat repihan kisah perempuan ini. Perempuan. Ya, perempuan. Dia yang telah sepakat menisbahkan diri pada identitas ini. Sedangkan aku, separo perempuan separo laki-laki. Hingga detik ini aku belum merasa utuh pada identitas tertentu. Walaupun jilbab itu telah kupakai, lebih karena ingin menutupi jakunku.
”Oya, aku belum tau siapa namamu”, Tergeragap aku dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Kayati.
”mmm,,,aku…aku…MARTINA. Kamu bisa panggil aku Tina”, teringatlah aku pada sesuatu.
”Kayati. Mengapa kamu begitu saja mempercayakan kisahmu padaku?’,
“Sebab aku ingin memiliki kekuatan sepertimu”, Ia membelai kerudungku.
Tak sempat aku cerna lebih jauh kata-katanya sebab kami harus segera berpisah di Taman Lembah, jika aku tak mau Dosen dan kawan-kawanku sekelas mengolokku Waria telat. Aku masih sempat melihatnya lambaikan tangan dan tersenyum menenangkan.
*****
Ia memberiku energi baru. Sosok perempuan ayu ini begitu saja hadir dalam kawah pergolakan batinku. Tuhan maha Agung dengan segala keanggunan-Nya. Satu pencerahan yang tak terduga datangnya. Perjuangan perempuan ini membuka gerbang hatiku yang dulu aku tutup dan gembok rapat-rapat. Aku anggap malam ada di balik pintu itu. Aku tak mau malam menyergapku dalam ketakberdayaan. Saudara-saudaraku, Teman-temanku, dosenku, dan tetangga-tetanggaku mereka semua adalah malam. Mereka semua gelap dan selalu menawarkan selimut hitam pekat. Setiap ejekan dan hinaan yang keluar dari mulut mereka adalah tanda kerakusan, lambang ketamakan, simbol kekuatan. Mereka tak pernah sadar bahwa matahari demikian enggan keluar dari peraduan, sekadar menyapaku, sekadar menghangatkanku. Hanya orang tuaku yang membantu memperlihatkan siangku pada dunia. Namun apa daya tangan mereka cuma dua, sekuat apapun mereka berupaya mereka tak bisa mencegah sebab sumber segala malam adalah hati dan pikiranku sendiri.
Operasi pembuangan salah satu kelamin ganda yang kujalani ketika awal menginjak bangku kuliah satu tahun lalu telah membuat siangku menjadi malam yang menakutkan. Walaupun vonis dokter kelamin perempuan yang harus dipertahankan sebab terdapat rahim dalam perutku, payudaraku ada kemungkinan tumbuh, dan sisi feminitasku demikian tampak (kadar hormon dsb) tapi tubuhku secara fisik sangat mengganggu. Bentuk rahang diwajahku keras dan kaku sama seperti bentuk rahang laki-laki, pahatan diwajah dan tubuhku tegas dengan maskulinitas, dan satu lagi yang paling aku ratapi, jakun yang besar dan tampak mencolok tertata rapi di leherku. Aku telah merangkul hatiku dengan beribu tangan malam yang aku ciptakan sendiri. Aku teringat bagaimana kerasnya usaha orang tuaku meyakinkan identitas baruku. Setelah perubahan itu diputuskan pengadilan, mereka mencatatkan perubahan jenis kelaminku pada KKCS (Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil) 60 hari setelah tanggal penetapan pengadilan, setelah akta kelahiranku di beri catatan pinggiran barulah KTP dan KSK (Kartu Susunan Keluarga) bisa dilakukan perubahan. Aku sama sekali tak mau tahu. Aku tenggelam dalam depresi dan rendah diri.
Dan Kayati, demikian perempuan ini mengenalkan dirinya telah menjadi semacam malaikat kiriman Tuhan sebagai kunci pembuka gerbang. Sebelum tidur aku mencoba napak tilas kehidupanku, berpikir ulang tentang hal-hal yang kubenci dan kusukai. Bahwa sudah terlampau lama siang tak muncul dalam hari-hariku, siang aku biarkan mengendap dan kedinginan. Aku pupuk kelemahan dan kekuranganku hingga menggerogoti rasa percaya diri. Aku harus menciptakan sesuatu, aku harus mengkaryakan kelebihanku, agar siangku senang dan mau menggantikan malam. Seperti Kayati yang mengibarkan bendera perlawanan aku ingin turut pula bergabung lalu menang. Esok aku akan kabarkan perubahan ini pada Kayati, aku ingin dia menjadi orang pertama yang mendengarnya.
*****
Aku bingung mendapati bungkusan yang diberikan kondektur pagi ini. Katanya itu adalah titipan dari perempuan yang kemarin duduk di sebelahku. Dengan gegas aku sobek sampul penutup barang seberat kurang lebih satu kilo ini. Dalam hitungan detik aku lahap surat yang ada di dalamnya, lalu meminta kondektur menurunkanku. Hampir menangis aku mengganti jalur bus yang kutumpangi. Terengah sebab sesuatu yang fatal akan menimpa temanku. Ya Allah, hanya kuasa-Mu yang mampu kendalikan hati dan nurani kami, lirihku.
*****
Bintang itu berkelap-kelip indah, membuat malam ini tampak cerah. Aku baru menyadari ternyata malam tak lagi menakutkan. Malam tak lagi di tingkah kelam. Kayati hembuskan napas terakhir dalam pelukanku. Ia benar-benar telah penuhi janjinya untuk pergi ke bintang. Bungkusan itu adalah dokumen-dokumen dan hasil rekaman. Ia menyadari bahaya tengah mengancam jiwanya. Siang itu selepas berbincang terakhir kali denganku ia bertemu suaminya dan berhasil mengumpulkan banyak info darinya. Mami yang punya telinga di mana-mana telah curiga, kenapa Wardan hanya mau dengan satu perempuan yaitu Kayati setiap kali ia datang. Sorenya ketika mami dan suaminya tengah asyik berbincang, ia menyelinap keluar dan menitipkan bungkusan ini pada kondektur bus jalur 15 yang biasa kami tumpangi. Ia instruksikan agar aku membawa bungkusan itu ke jalan Magelang, LSM Woman Crisis Center belakangan baru aku ketahui namanya.
Mengetahui istrinya tak ada di ruangan ditambah lagi info yang diberikan mami, bahwa istrinya ada main mata dengan salah satu pelanggan membuatnya naik pitam. Kekuatan kendali atas tubuh istrinya ia sebut itu cinta. Ia kultuskan prestige yang tersimbol pada fisik dan kecantikan. Ia lemah pada cara-cara instan nan menggiurkan dalam mengeruk keuntungan. Subordinasi perempuan baginya adalah kenikmatan. Sore itu menjadi saksi betapa ego dan kecemburuan telah membutakan mata & logika. Kekerasan baginya adalah proses penyadaran. Dinding kamar itu menjadi saksi sebrutal apa ia perlakukan Kayati. Semalaman hanya jeritan nya yang terdengar para penghuni mess lain.
Pagi tadi, setelah aku dapati bungkusan ada di tanganku, segera aku tunaikan tugas yang diberikan Kayati. Dengan cekatan orang-orang di LSM itu menyambutku dan segera menyusun tindakan. Tak sampai satu jam kami dan aparat kepolisian berhasil lakukan penggerebekan. Suami Kayati yang kalap melakukan perlawanan, barulah ia tenang setelah peluru polisi bersarang apik di dadanya. Menembus baju kegarangan yang selama ini bersarang disana. Aku dan Wardan segera memburu Kayati yang terkapar di sudut ruangan. Aku tak tahu dialog apa yang terjadi antara mereka berdua, Wardan dan Kayati. Sebab tak perlulah terucap lewat kata. Aku peluk Kayati dan airmataku tumpah sudah. Tatapan tulus penuh kasih aku dapati di sudut mata mereka berdua. Bukan rasa iba dan kasihan yang sering aku dapati di mata orang-orang. Sesungging senyum ia tinggalkan untukku dan Wardan.
Maret – Mei 2008
Demak Ijo
Balqis dan perjuangannya memenjarakan Sardiman
By: End.

September 27, 2008 at 9:17 pm
Bagus ni! Tema yg bagus! Yg perlu dicermati:
1. Paragraf satu itu mau dihubungkan ke mana? Kisah Kayati ato kisah tokoh Aku (Martina)
2. Ada dua tema yg menarik: tema Kayati (tema umum kekerasan perempuan) dan tema Martina (proses penerimaan diri-ganti kelamin)Jika, bisa dihubungkan, penghubungnya kurang kuat. Jika dipisahkan, kisah Martina juga bagus dibuat cerita sendiri.
3. Pelukisan isi paragraf satu akan makin kuat,klo di bagian akhir cerpen juga ada paragraf yg mirip-mirip paragraf satu. Misalnya:
“Malam telah menguasai Siang. Siang terpuruk di sudut bumi. Telungkup dan berdaya! Namun ketika aku menatap mat Kayati, kulihat sinar mentari bersinar sangat cerah. Tatapan mata Kayati seakan memberikan tanda bahwa Siang itu telah mampu mengalahkan Malam. Siang milik Kayati sendiri yang akan dipelukknya dalam kehangatan Sang Mentari Abadi.”
July 17, 2009 at 3:03 pm
cerpen yang bagus
kalo boleh ajarin nulis yang baik dong
kasih triknya ja
coz q pengen bgt bisa nulis